Oleh Agustinus Mario Damar
Liputan6.com, Jakarta – Mengawali tahun ini, badan antariksa Tiongkok telah berhasil membuat sejumlah pencapaian penting, seperti berhasil menjelajah sisi terjauh Bulan sekaligus menjadi negara pertama yang melakukannya.
Selain itu, mereka juga telah meluncurkan rover untuk menyusuri permukaan Bulan dan berencana menanam tumbuhan di sana.
Meski sudah berhasil melakukan hal tersebut, Tiongkok dilaporkan memiliki rencana lain yang lebih besar.
Dikutip dari BGR, Sabtu (27/4/2019). rencana besar yang dimaksud adalah membangun markas di Bulan. Informasi ini pertama kali diketahui dari laporan Xinhua News Agency.
Dalam laporan itu, rencana Tiongkok untuk mendirikan markas pertama di Bulan, diungkap oleh Head of China National Space Administration, Zhang Kejiang.
Ketika itu, dia sedang menjadi pembicara dalam perayaan Hari Luar Angkasa Tiongkok.
Sebagai tindak lanjut rencana ini, Tiongkok disebut sudah berencana untuk meluncurkan Chang’e 5 yang bertugas mengumpulkan sampel bahan dan kembali di Bumi. Rencananya, misi ini akan berjalan pada akhir 2019.
Kendati demikian, rencana untuk membangun markas di Bulan masih belum diungkap secara jelas.
Tiongkok hanya menyebut akan membangun pusat penelitian di dekat kutub selatan Bulan, untuk membantu penjelajahan dan rencananya dalam waktu 10 tahun.
Selain Tiongkok, negara lain yang juga memiliki rencana membangun markas di Bulan adalah Amerika Serikat. NASA diketahui sudah berinvestasi membangun markas di Bulan untuk mengumpulkan sumber daya, termasuk memanen air dari permukaan satelit Bumi tersebut.
Sebelumnya, Eropa juga dilaporkan berencana untuk menjalankan misi mandirinya terbang ke Bulan.
Badan Antariksa Eropa (ESA) mengungkap rencana misi tersebut dengan mengawali penambangan regolith alias batu Bulan.
Menurut informasi yang dilansir laman Geek pada Kamis (24/1/2019), ESA juga sudah menandatangani kontrak 12 bulan dengan perusahaan produsen roket, Ariane Group, untuk meluncurkan pesawat luar angkasa tak berawak ke Bulan.
Pesawat luar angkasa ini dikabarkan akan diterbangkan ke Bulan mulai 2025.
“Eksplorasi sumber daya luar angkasa seperti Bulan adalah kunci kami untuk mencari apakah Bulan memang bisa dihuni. Misi ini juga merupakan rencana komprehensif ESA untuk membuat Eropa menjadi mitra eksplorasi antariksa global di dekade berikutnya,” kata David Parker, direktur divisi Human and Robotic Exploration ESA.
Dalam misi ini juga, ArianeGroup bersama dengan Arianespace, akan bekerjasama dengan startup asal Jerman, PT Scientists.
Mereka akan menyediakan beberapa wahana dan fasilitas untuk membantu eksplorasi penambangan di Bulan