TEMPO.CO, Xinjiang – Perlombaan luar angkasa abad ke-21 akan ditentukan oleh negara adikuasa yang pertama kali dapat melakukan kontak dengan kehidupan alien menggunakan teleskop terbaik. Untuk ini, Cina tampaknya berada di depan dengan teleskop canggih mereka.
Cina telah mengoperasikan teleskop radio terbesar di dunia, 500-meter Aperture Spherical Telescope (FAST). Namun minggu ini, negara tersebut juga menyetujui rencana untuk Xingjiang Qitai 110m Radio Telescope (QTT).
QTT adalah sebuah teleskop baru dengan piring yang dapat dikendalikan (steerable) berdiameter 10 persen lebih besar dari teleskop Green Bank di West Virginia, yang sebelumnya merupakan teleskop steerable terbesar di Dunia. Teleskop baru Cina ini akan memiliki kemampuan untuk memantau 75 persen langit. Teleskop radio seperti ini sangat penting untuk mendeteksi sinyal tertentu, karena dapat dipindahkan, diputar, dan ditujukan untuk target tertentu. Teleskop ini akan beroperasi pada frekuensi 150 MHz sampai 115 GHz. Frekuensi ini dioptimalkan untuk melakukan penelitian tentang gelombang gravitasi, lubang hitam dan materi gelap.
Okezone. Com “Antenanya terbesar di dunia, akan dapat melacak asal-usul sinyal yang diterima,” kata Song Huagang dari observatorium Chinese Academy of Sciences Xinjiang dalam sebuah pernyataan seperti dilansir laman Outer Place, 18 Januari 2018. “Di sekitar teleskop ini ada pegunungan Tianshan yang akan melindungi teleskop dari kebisingan elektromagnetik,” ujar Huagang. “Di situ jarang penduduknya, tepatnya di timur laut Xianjiang.” copyright. Tempo.co.cdb
Oleh Jeko I. R. Penampakan mirip alien di Planet Mars. (NASA) Liputan6.com, California – Eksistensi alien di alam semesta, hingga kini masih menjadi tanda tanya besar. Namun, laporan terbaru menyebut kalau NASA sebetulnya telah menyimpan bukti keberadaan alien di Planet Mars. Menurut informasi yang dikutip laman Mirror pada Senin (16/7/2018), Badan Antariksa Amerika Serikat tersebut diketahui telah menghapus bukti kehidupan sang makhluk ekstraterestrial sejak 50 tahun yang lalu. Laporan mengungkap sekitar era 1970-an, pesawat rover NASA Viking ternyata sudah lebih dulu mendarat di Planet Merah. Pada saat itu, Viking diduga telah menemukan tanda keberadaan alien, akan tetapi pesawat itu malah membakarnya tanpa jejak. Informasi ini didasarkan dari bukti pesawat rover NASA, Phoenix Lander, yang berada di tanah Mars 10 tahun lalu. Kala itu, Phoenix Lander menemukan senyawa racun perklorat yang dicurigai sebagai tanda keberadaan alien. Perklorat tersebut diyakini juga ditemukan oleh Viking pada 1976 silam. Saat itu, Viking menemukan molekul chlorobenzene yang diproduksi saat senyawa karbon bereaksi dengan perklorat. Hingga berita ini naik, NASA sendiri hingga tidak mau berkomentar soal penemuan senyawa tersebut. Penampakan objek misterius di Mars yang diduga pesawat alien.
Pinterest. Com
Pada awal tahun ini, NASA telah mengirim robot baru yang akan didaratkan di Mars. Robot tersebut akan ditugaskan untuk mempelajari asal usul Planet Merah tersebut.
Badan Antariksa Amerika Serikat ini sebetulnya memang sudah melakukan beberapa misi besar penjelajahan Mars. Namun, berbeda dengan misi terbaru kali ini, robot tersebut akan dilengkapi sejumlah teknologi canggih untuk bisa menyelami permukaan Mars. Menurut yang dilansir CNBC, Selasa (30/1/2018), misi tersebut bernama Interior Exploration Using Seismic Investigations, Geodesy and Heat Transport atau InSight. Tugas utamanya adalah meneliti proses pembentukan bebatuan dan komponen alam lain di dalam Mars. Misi ini akan dilangsungkan dari Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California. “Kami sama sekali belum melihat isi dari Mars. Bahkan tidak bisa melihatnya sampai 1 persen,” kata Sue Smrekar, Deputy Principal Investigator, InSight Education NASA. “Kami ingin menyelami permukaan Mars, kami ingin bisa melihat 99,9 persen apa yang ada di bawah permukaanya,” ujarnya menambahkan.
Teknik penggalian permukaan Mars sebelumnya sudah dilakukan para astronot di Bulan. Dalam hal ini, robot InSight akan menggunakan lengannya untuk bisa menggali permukaan Mars.
maxpixel.net/Blender-3d-Alien-Ufo-Space-788746 ilustrasi gambar KOMPAS.com — Alien hingga kini masih menjadi misteri. Pasalnya, meski diyakini oleh beberapa orang ada, makhluk luar angkasa ini belum pernah benar-benar ditemukan. Namun, bagaimana orang yang pernah pergi ke luar angkasa meyakini keberadaan alien? Jeff Hoffman, astronot Badan Antariksa AS (NASA), meyakini adanya kehidupan lain di alam semesta. Hoffman pernah melakukan lebih dari lima misi di antariksa dan menghabiskan 1.211 jam hidupnya di luar angkasa. “Saya percaya ada kehidupan di tempat lain di alam semesta,” ungkap Hoffman dikutip dari Mashable, Sabtu (24/3/2018). Seperti kita ketahui, hanya 600 orang dari sekitar 108 miliar penduduk Bumi yang telah menjelajah luar angkasa. Beberapa dari astronot tersebut kemudian duduk bersama dalam sebuah konferensi di Los Angeles dengan pembuat film Darren Aronofsky. Mereka berkumpul bersama untuk membuat video bertajuk “One Strange Rock” yang ditayangkan di National Geographic pada Senin (26/3/2018). Dalam konferensi tersebut, mereka membahas kehidupan di Bumi yang ajaib. Bayangkan saja, makhluk di Bumi memiliki keunikannya sendiri. Contohnya, organisme bersel satu yang muncul dari bahan anorganik, yang berevolusi karena terlindung oleh medan magnet Bumi dan ozon serta oksigen dan air yang mendukung. “Anda melihat semua sistem ini… dan ini menakjubkan, semua hal harus bersatu untuk mewujudkan realitas besar ini,” kata Aronofsky. Meski begitu, pertanyaan apakah alien benar-benar ada sangat sulit untuk dijawab. Apalagi, alam semesta sangat besar sehingga untuk menemukan alien mungkin sulit. “Kami pada dasarnya telah membuktikan bahwa setiap bintang memiliki planet,” ujar Chris Hadfield, seorang astronot dari Kanada. “Lalu kamu mulai menghitung perkiraannya,” imbuh pria yang telah menghabiskan 4.000 jam di luar angkasa itu. Sayangnya, perhitungan tersebut juga sulit. Lagi-lagi masalahnya adalah betapa luasnya alam semesta. Jadi, perhitungannya pun disesuaikan dengan ukuran alam semesta.
Menurut astronot David Korneich, dalam batasan alam semesta yang teramati saja, mungkin ada septiliun bintang. Jika setiap bintang memiliki setidaknya satu planet, maka tampaknya tak terbayangkan bahwa tak ada kehidupan di tempat lain.
“(Tetapi tetap saja) kami harus memikirkan berbagai hal untuk menemukan bukti,” kata Mae Jamison, astronot wanita Afrika-Amerika di luar angkasa. Meski percaya ada kehidupan lain di luar Bumi, Hoffman juga terus mencari bukti. “Sebagai ilmuwan, saya mencari bukti, ujar profesor aeronautics dan astronautics di MIT tersebut. “Sampai sekarang, kita tidak punya bukti. Jadi saya tidak punya apa pun untuk mendukung keyakinan saya. Tapi saya masih percaya,” imbuhnya. Hingga kini, kita tahu bahwa para ilmuwan dunia terus-menerus menemukan bukti bahwa kehidupan bisa ada di tempat yang tak mungkin sekalipun. Salah satunya di Etiopia. Di negara tersebut, para peneliti menemukan bakteri yang hidup di danau asam. Bakteri tersebut bahkan hidupnya tergantung pada logam berat dan tidak membutuhkan oksigen. Ini menjadi salah satu dugaan bahwa bisa jadi di suatu yang jauh dari Bumi ada kehidupan yang hadir. Mungkin saja ada sesuatu yang hidup di bawah es bulan Yupiter. “Kehidupan cenderung umum, tapi rumit. Kehidupan cerdas sangat langka,” ujar Hadfield. copyright.2019.kompas. Com Penulis: Resa Eka Ayu Sartika Sumber: MASHABLE
Ilustrasi Planet kepler 186f.planet yang menjadi target pencarian kehidupan ‘alien’ Oleh Afra Augesti pada 26 Mar 2019, 15:47 WIB Liputan6.com, Paris – Sebuah teori berpendapat bahwa alien diam-diam sedang mengamati manusia dari galaksi lain. Konsep ini juga mengemukakan bahwa kita sebenarnya bisa berkomunikasi langsung dengan makhluk asing tersebut.
Gagasan itu adalah salah satu skenario yang dieksplorasi oleh sekelompok peneliti internasional pada 18 Maret 2019, di sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh organisasi nirlaba Messaging Extraterrestrial Intelligence (METI).Di sana, mereka memperdebatkan “The Great Silence”, sebuah anggapan yang menyebut alasan di balik belum ada satu pun alien yang mengontak manusia. Selain itu, para peneliti juga mengeksplorasi satu kemungkinan yang dikenal sebagai “zoo hypothesis” atau “hipotesis kebun binatang.”
Pertama kali diusulkan pada tahun 1970-an, hipotesis tersebut menggambarkan Bumi sebagai sebuah planet yang sudah diamati oleh “galactic zookeepers” yang sengaja menyembunyikan diri mereka dari ‘mata’ manusia, lapor Forbes yang dikutip Live Science, Selasa (26/3/2019).
“Ketika kita mencoba untuk memahami alam semesta dengan lebih baik, pertanyaan seperti ‘apakah kita benar-benar hidup sendirian’ tidak dapat dihindari,” kata salah satu peserta seminar, Florence Raulin-Cerceau, seorang profesor di National Museum of Natural History di Paris, kepada Paris-Match.
Florence meragukan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang hidup di alam semesta ini. Ia pun menilai bukan hanya Bumi yang menjadi satu-satunya planet untuk berevolusi dan menjadi rumah bagi kehidupan, padahal di luar sana ada miliaran bintang dan planet.
Tetapi pertanyaaan besar yang sering muncul di benak para ilmuwan adalah apakah di makhluk angkasa luar benar-benar ada?, lalu di mana mereka dan mengapa kita belum menemukannya?’
Di bawah pengamatan alien?
Salah satu penjelasan yang dieksplorasi oleh para ilmuwan pada pertemuan METI adalah alien menyadari Bumi dan mengamati manusia selayaknya orang yang mengamati binatang di kebun binatang.
Menurut Presiden METI, Douglas Vakoch, jika ini masalahnya maka manusia harus meningkatkan usaha mereka untuk membuat pesan yang mampu menjangkau “para penjaga” tersebut, demi menunjukkan kecerdasan kita.
Tetapi bagaimana jika kehidupan di Bumi bukan bagian dari ‘kebun binatang ala alien’ yang disebutkan tadi? Bagaimana jika, sebaliknya, umat manusia telah dievaluasi oleh peradaban alien dan kemudian “dikarantina” dari galaksi tetangga kita?
“Mungkin mereka secara aktif mengisolasi kita dari kontak dunia luar, untuk kebaikan kita sendiri, karena berinteraksi dengan alien akan mengganggu peradaban di Bumi,” ujar Jean-Pierre Rospars, direktur penelitian di Institut National de la Recherche Agronomique (INRA) dalam lokakarya METI.
Jpl. nasa
Alien Mampu Menembak Laser ke Lubang Hitam NASA dituduh telah menutupi penampakan alien setelah sebuah video yang disiarkannya secara langsung tiba-tiba dihentikan. (NASA) NASA dituduh telah menutupi penampakan alien setelah sebuah video yang disiarkannya secara langsung tiba-tiba dihentikan. (NASA) Sementara itu, seorang astronom di Columbia University, David Kipping, berhipotesis bahwa peradaban alien mungkin secara tidak kelihatan telah menavigasi galaksi Bimasakti.
Menurutnya, makhluk ekstraterrestrial ini menembak laser ke lubang hitam biner (lubang hitam kembar yang saling mengorbit) agar bisa berkelana di dalam galaksi ini.
“Saat ini, pesawat ruang angkasa sudah menavigasi tata surya kita menggunakan wells gravitasi (tarikan gravitasi yang diberikan benda besar di angkasa luar) sebagai ketapel,” katanya.
Pesawat ruang angkasa itu memasuki orbit di sekitar sebuah planet, melontarkan dirinya sedekat mungkin ke planet tersebut atau Bulan untuk menambah kecepatan, dan kemudian menggunakan energi tambahan ini untuk melakukan perjalanan lebih cepat menuju tujuan berikutnya.
Dengan melakukan hal itu, pesawat menyedot sebagian kecil dari momentum planet melalui ruang hampa, meskipun pengaruhnya sangat kecil sehingga hampir tidak mungkin untuk diperhatikan.
Prinsip dasar serupa juga beroperasi di wells gravitasi yang intens di sekitar lubang hitam. Tidak hanya menikung jalur benda padat, pesawat asing itu juga menerangi dirinya sendiri.
Jika foton atau partikel cahaya memasuki wilayah tertentu di sekitar lubang hitam, maka itu akan melakukan satu sirkuit parsial di sekitar lubang hitam dan terlempar kembali ke arah yang sama persis.
Fisikawan menyebut daerah-daerah itu sebagai gravitational mirror atau “cermin gravitasi”, sedangkan foton yang terlempar kembali dinamakan boomerang foton atau “foton bumerang.”
Foton bumerang bergerak dengan kecepatan cahaya, sehingga alien tidak mengambil kecepatan apa pun dari perjalanan mereka di sekitar lubang hitam, melainkan energi. Energi ini lalu memanfaatkan bentuk peningkatan dari panjang gelombang cahaya.
Dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal pracetak arXiv pada 11 Maret, Kipping mengusulkan bahwa pesawat antariksa antarbintang dapat menembakkan laser ke “cermin gravitasi” dari lubang hitam yang bergerak cepat dalam sistem lubang hitam biner.
Ketika foton baru itu diberi energi dari laser yang berputar balik, foton dapat menyerapnya dan mengubah semua energi ekstra menjadi momentum –sebelum menembakkan foton kembali ke cermin.
Sistem ini, oleh Kipping disebut sebagai Halo Drive. Dengan sistem ini, semua energi bisa saja disedot dari lubang hitam sebagai bahan bakar pesawat alien, meski akan memiliki batas.
Pada titik tertentu, pesawat akan bergerak begitu cepat menjauh dari lubang hitam sehingga tidak akan menyerap energi cahaya yang cukup untuk menghimpun kecepatan tambahan.
Sebuah peradaban alien mungkin menggunakan sistem seperti ini untuk menavigasi Bimasakti, tulis Kipping.
“Ada banyak lubang hitam di sana. Jika demikian, mereka mungkin menyedot begitu banyak momentum dari lubang hitam sehingga akan mengacaukan orbitnya, dan kita mungkin bisa mendeteksi tanda-tanda peradaban alien dari orbit eksentrik lubang hitam biner,” Kipping menutup.
Oleh Agustinus Mario Damar Liputan6.com, Jakarta – Mengawali tahun ini, badan antariksa Tiongkok telah berhasil membuat sejumlah pencapaian penting, seperti berhasil menjelajah sisi terjauh Bulan sekaligus menjadi negara pertama yang melakukannya.
Selain itu, mereka juga telah meluncurkan rover untuk menyusuri permukaan Bulan dan berencana menanam tumbuhan di sana.
Meski sudah berhasil melakukan hal tersebut, Tiongkok dilaporkan memiliki rencana lain yang lebih besar.
Dikutip dari BGR, Sabtu (27/4/2019). rencana besar yang dimaksud adalah membangun markas di Bulan. Informasi ini pertama kali diketahui dari laporan Xinhua News Agency.
Dalam laporan itu, rencana Tiongkok untuk mendirikan markas pertama di Bulan, diungkap oleh Head of China National Space Administration, Zhang Kejiang.
Ketika itu, dia sedang menjadi pembicara dalam perayaan Hari Luar Angkasa Tiongkok. Sebagai tindak lanjut rencana ini, Tiongkok disebut sudah berencana untuk meluncurkan Chang’e 5 yang bertugas mengumpulkan sampel bahan dan kembali di Bumi. Rencananya, misi ini akan berjalan pada akhir 2019.
Kendati demikian, rencana untuk membangun markas di Bulan masih belum diungkap secara jelas.
Tiongkok hanya menyebut akan membangun pusat penelitian di dekat kutub selatan Bulan, untuk membantu penjelajahan dan rencananya dalam waktu 10 tahun.
Selain Tiongkok, negara lain yang juga memiliki rencana membangun markas di Bulan adalah Amerika Serikat. NASA diketahui sudah berinvestasi membangun markas di Bulan untuk mengumpulkan sumber daya, termasuk memanen air dari permukaan satelit Bumi tersebut. Sebelumnya, Eropa juga dilaporkan berencana untuk menjalankan misi mandirinya terbang ke Bulan.
Pixabay. Com
Badan Antariksa Eropa (ESA) mengungkap rencana misi tersebut dengan mengawali penambangan regolith alias batu Bulan.
Menurut informasi yang dilansir laman Geek pada Kamis (24/1/2019), ESA juga sudah menandatangani kontrak 12 bulan dengan perusahaan produsen roket, Ariane Group, untuk meluncurkan pesawat luar angkasa tak berawak ke Bulan. Pesawat luar angkasa ini dikabarkan akan diterbangkan ke Bulan mulai 2025. “Eksplorasi sumber daya luar angkasa seperti Bulan adalah kunci kami untuk mencari apakah Bulan memang bisa dihuni. Misi ini juga merupakan rencana komprehensif ESA untuk membuat Eropa menjadi mitra eksplorasi antariksa global di dekade berikutnya,” kata David Parker, direktur divisi Human and Robotic Exploration ESA.
Dalam misi ini juga, ArianeGroup bersama dengan Arianespace, akan bekerjasama dengan startup asal Jerman, PT Scientists. Mereka akan menyediakan beberapa wahana dan fasilitas untuk membantu eksplorasi penambangan di Bulan
Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, bertanyalah kepada orang-orang yang ramah di forum dukungan.